Sabtu, 12 November 2011

Kriya - Kriya Keramik, Tanah Liat


Kriya dalam konteks masa lampau dimaknai sebagai suatu karya seni yang unik dan karakteristik yang didalamnya mengandung muatan nilai estetik, simbolik filosofis dan fungsional serta ngrawit dalam pembuatannya.

Adapun kriya dalam masa kini merupakan hasil kreasi generasi yang mengambil manfaat dari kriya masa lampau yang “dimodifikasi” dalam berbagai variasi dengan didasari oleh pikiran-pikiran yang tumbuh sebegai gagasan personal yang diekspresikan dalam wujud karya seni personal maupun gagasan yang sifatnya kolektif untuk kepentingan ekonomi komersial.


Kriya Keramik

Kata keramik berasal dari bahsa  Yunani “Keramos” yang berarti : Periuk atau Belangga yang dibuat dari tanah. Sedang yang dimaksud dengan barang atau bahan keramik ialah: semua barang atau bahan yang dibuat dari bahan-bahan tanah atau batuan silikat yang proses pembuatannya melalui pembakaran pada suhu tinggi.

Tanah liat sebagai bahan pokok untuk untuk pembuatan keramik, merupakan salah satu bahan yang kegunaannya sangat menguntungkan bagi manusia karena bahannya yang mudah didapat dan pemakaian hasil jadinya yang sangat luas. Juga sifat tanah liat yang sangat menguntungkan adalah mudah dibentuk bila tanah liat ini telah dicampur dengan air dalam perbandingan tertentu. Jika campurannya pas, tidak lebih ataupun kurang, maka sifat tanah itu akan plastis.


PROSES PEMBUATAN KRIYA KERAMIK

Sebelum kita membahas bagaimana proses pembuatan karya kriya dengan berbagai tehnik, lebih baik kita bahas dulu tentang tanah liat.

Tanah liat yang kita gunakan bisa dari tanah liat kering ataupun yang basah.
(Klik pada gambar untuk memperbesar)

Tanah Liat Basah

Tanah Liat Kering


Tanah liat yang kering kita hancurkan hingga menjadi halus atau bisa juga hingga menjadi debu. Lalu kita ayak dan kita campur dengan air secukupnya. Kita aduk hingga merata dan tanah liat itu kita diamkan selama minimal satu malam.

Tanah liat yang sudah basah atau sudah tinggal pakai kita taruh di meja gips. Dan kita uli tanah tersebut hingga air yang berlebih terserap meja dan gelembung udara yang ada dalam tanah bisa terbuang.

Proses Menguli

Proses Menguli

Proses Menguli


Selain diuli tanah juga harus dipukul-pukul dan dibanting agar udara yang terkandung dalam tanah benar-benar hilang.

Cara lain juga tanah bisa di potong-potong dengan senar kemudian diuli kembali.

Ini dimaksudkan agar tanah liat memiliki sifat plastisitas, homogen, bebas dari gelembung udara, dan memiliki kemampuan bentuk.

Plastisitas.
Plastisitas tanah merupakan syarat utama agar tanah bisa dibentuk sesuai dengan keinginan kita. Dan fungsi plastisitas sendiri adalah sebagai pengikat dalam proses pembentukan sehingga karya kita nantinya tidak mudah retak, berubah atau runtuh.

Homogen.
Campuran masa tanah harus homogen, maksudnya plastisitasnya merata dan tidak ada yang keras atau lembek.

Bebas dari gelembung udara.
Tanah harus bebas dari gelembung udara, karena jika masih ada gelembung udara dalam tanah liat bisa menyulitkan kita dalam proses pembentukan. Juga menimbulkan masalah ketika proses pengeringan atau pembarakan. Karena karya kita bisa retak atau pecah.

Memiliki kemampuan bentuk.
Tanah harus memiliki kemampuan bentuk yang berfungsi sebagai penyangga sehingga tidak mengalami perubahan bentuk pada waktu proses pembentukan atau setelah pembentukan selesai.

Setelah tanah siap seperti ini, kita tinggal buat karya dengan beberapa tehnik yang akan ku bahas. Misalnya Tehnik Pijat, Tehnik Pilin, Tehnik Lempeng atau Slab, Tehnik Putar. Tapi ku bahas nanti aja ya. Hehe..
Sekarang sekian dulu buat persiapannya.. :)



Art Work - Komplikasi

(Klik pada gambar untuk memperbesar)

Komplikasi
Mixed Media On Canvas
50x60 cm
2011


Ini adalah karya lukis yang dipamerkan bersama teman-teman Seni Rupa Kelas A angkatan 2008 dengan Tema KOMPLIKASI..

Ini ada tulisan dari temen sekelas, Benni Irawan. si Jago Teori kelas kita. Hehe..


KOMPLIKASI

Komplikasi, sebuah kata dengan makna yang mendalam. Ia berasal dari kata ”kompleks” yang berarti sesuatu gabungan dari beberapa unsur. Kata komplikasi dalam dunia medis dipahami sebagai  suatu penyakit sekunder atau kondisi yang berkembang dalam perjalanan penyakit primer dan timbul baik sebagai akibat dari penyebab independen. Dalam bahasa sehari-hari sepertinya kata komplikasi erat hubungannya dengan kata komplit yang beararti lengkap.

Pengalaman estetis merupakan hal pokok yang harus dimiliki oleh seorang perupa. Dimana dari pengalaman tersebut ia mampu mengungkapkan estetis itu kedalam bahasa visualnya. Pencapaian estetis tidaklah lepas dari proses berpikir dan merasakan. Dalam bukunya, Descartes telah lama mengungkapkan “cogito ergo sum,  Saya berfikir, maka saya ada”. Pencapaian estetis seorang perupa tidaklah datang tanpa sebuah proses, ia hadir sebagai suatu refleksi dari proses berfikir itu sendiri. Alam pikiran yang kompleks, dimana benturan-benturan saling mengisi dan melengkapi ditengah berbagai masalah yang dihadapi, situasi yang dirasakan, dan apapun yang dilihat sehingga terekam dalam pola pikir.

Fenomena yang terjadi disekitar adalah sebuah masalah yang kompleks, mahasiswa pendidikan seni rupa sebagai akademisi yang ikut andil dalam menyikapi permaslahan bangsa yang begitu kompleks pula, sehingga melahirkan konflik pada diri mereka sendiri. Konflik batin dan alam pikiran yang terjadi meletupkan suatu energi estetik, yang dalam prinsipnya “energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan, tetapi dapat berubah bentuk”. Disinilah tugas perupa, yakni menuangkan energi tersebut  kedalam karya rupa yang agung.

Semoga, Krisis estetik yang terjadi dilingkungan mahasiswa akan digebrak dengan pameran ini, pameran yang bertajuk keberagaman, multikultur dari para perupa yang mempersembahkan karya terbaiknya. Para perupa muda yang berasal dari berbagai daerah, yang bersatu dalam komunitas kelas A angkatan 2008 Jurusan Pendidikan seni Rupa, FBS-UNY. Mereka adalah bukti dari sebuah kompleksitas yang terjadi di kampus ini.

“Waktu itu terus berlari sampai engkau menghentikannya dalam bentuk sebuah karya. Karena karya itu adalah dokumentasi bahwa engkau pernah ada (Rustan, 2009).” Seni pun begitu kompleks, perubahan zaman telah memeberikan pengaruh yang dahsyat terhadapnya, bahkan iapun tidak terikat  batasan-batasan atau kaidah-kaidah seni yang sudah mapan. Seni mengembangkan dirinya setapak demi setapak sehingga menjadi sesuatu yang longgar baik bentuk, isi maupun fungsinya.

Dari hal yang kompleks tersebut, perupa telah menuangkan energinya kedalam karya, lalu akan kemana lagi energi itu?, energi tersebut meledak sebagai sebuah gerakan yang mengusir kesepian aktivitas seni di kampus ini.

Selamat berpameran.

Benni Irawan



Bagiku sendiri, Komplikasi di sini adalah sesuatu yang bermacam-macam yang tergabung dalam satu wadah dan juga sesuatu yang sebenarnya sudah meradang di dalam diri kita namun belum juga sempat dikeluarkan karena berbeda sekali dengan kepribadian kita biasanya..

Seperti lukisanku ini. Aku memang menyukai figur-figur seperti ini (selain figur-figur yang sering kugambar). Namun karena menurutku figur semacam ini terlalu seperti perempuan, jadi hanya menjadi coretan-coretan iseng di dalam buku sketku saja..

Namun dalam pameran ini aku bisa mengeluarkan apa yang ingin ku keluarkan. Apa yang selama ini aku pendam dan apa yang selama ini sebenarnya sudah aku geluti atau aku suka. Namun tidak pernah terekspose publik. Hehe..

Aku terinsipirasi dari Lady Gaga dengan kostum-kostum uniknya. Dan bermunculan di otakku untuk menggambarkannya..

Lukisan ini bercerita tentang seorang yang ingin menggapai impiannya namun ada suatu hal yang membuatnya tidak bisa kemana-mana dan tidak bisa jauh. Namun pada suatu malam ia tetap nekat keluar walaupun apa yang akan terjadi mungkin merugikannya namun ia tidak lagi perduli.. Ia hanya ingin bahagia dan bisa menggapai apa yang ingin digapainya...

Sekian postnya, kalo ada masukan silahkan. Makasih :)




Jumat, 11 November 2011

Post-Impresionisme


(Klik pada gambar untuk memperbesar)

Starry-Night


Post-Impresionisme merupakan gerakan seni rupa pada tahun 1880-an. Sesuai dengan namanya, gerakan itu merupakan kelanjutan dari Impresionisme. Seniman-seniman Post-Impresionisme pertama-tama mendapat pengaruh dari gerakan Impresionisme, namun kemudian menolaknya, kecuali beberapa unsurnya yang mendasar seperti penggunaan warna yang cemerlang atau penggunaan warna-warna cerah.

Post-Impresionisme bukan merupakan gaya tunggal, melainkan meliputi beberaoa kecenderungan gaya. Beberapa seniman Post-Impresionis, seperti Cezanne dan Seurat menghidupkan kembali unsur Klasikisme. Seniman yang lain, misalnya Van Gogh dan Gauguin, memasukkan unsur Romantikisme dalam gayanya.

Dalam Post-Impresionisme berkembang beberapa gerakan, misalnya Divisionisme, yang disebut juga Neo-Impresionisme atau Pointilisme, dan Simbolisme atau dalam seni lukis disebut Sintetisme. Beberapa Seniman Post-Impresionisme yang lain mengembangkan gayanya sendiri secara lebih bebas.


Georges Seurat adalah tokoh utama gerakan Divisionisme atau Neo-Impresionisme.  Divisionisme mendasarkan gayanya pada pencampuran warna secara optik, dengan tehnik broken color, yang telah dirintis oleh Constable dan Delacroix. Gaya ini juga menggunakan goresan pendek-pendek Impresionisme.

Gaya Divisionisme atau Pointilisme Seurat muncul dari Impresionisme, yang mempertahankan tema yang realistik dan warna yang cerah. Contoh karya pointilisme Seurat adalah A Sunday Afternoon at the Grande Yatte (1884-1886).

A Sunday Afternoon at the Grande Yatte



Paul Cezanne, lukisannya juga mengutamakan struktur komposisi dari pada ekspresi perasaan. Cezanne mengikuti pendekatan Poussin dalam menggambarkan alam dan menjadikan Impresionisme lebih kuat dari monumental. Ia tidak tertarik dengan tehnik Impresionisme yang mengorbankan bentuk. Ia tidak setuju dengan konsep cahaya yang mengaburkan dan melarutkan bentuk-bentuk, seperti pada karya Monet.

Cezanne menggunakan tema dari kenyataan, tetapi ia mengungkapkan melalui penyederhanaan bentuk secara geometrik, yang didasarkan pada bentuk konis, bola dan silinder.

Cezanne juga menemukan metode baru untuk menentukan ruang yang disebut color modeling. Dalam metode ini, warna digunakan secara terpisah untuk mewujudkan perspektif, sebagai alternatif untuk perspektif garis dari seni rupa Renaisans. Pemikiran dasarnya ialah penggunaan warna panas dan warna dingin, dengan efek timbul-tenggelamnya, untuk menciptakan sistem ruang secara junkstaposisi.

Dalam melukis pemandangan alam, ia tidak melupakan tehnik open air. Dan lukisan Mount Sainte-Victoire beberapa kali ia lukiskan dan dari beberapa lukisannya itu kita bisa melihat perkembangan gayanya. Yang kemudian menjadi pengaruh pelukis Kubisme.

Mount Sainte-Victoire



Vincent Van Gogh juga mendapat pengaruh metode open-air dan warna terang Impresionisme, tetapi tidak mengikuti Impresionisme yang ortodoks. Kebanyakan lukisannya didasarkan pada objek alam, tetapi dengan menekankan perasaan berdasarkan penglihatan batinnya.

Karyanya yang paling terkenal adalah Starry Night (1889).

Starry Night


Van gogh mengungkapkan bahwa goresan bisa mewakili emosi perasaannya.


Paul Gauguin merupakan tokoh utama gerakan Simbolis dalam seni lukis. Simbolis merupakan gerakan dalam bidang sastra dan seni rupa yang berusaha menemukan tanggapan subjektif tentang dunia dan menolak naturalisme ataupun Impresionisme. Istilah lain untuk gerakan ini adalah Sintetisme yang merupakan sintesis antara pengalaman nyata dan pandangan batin. Gayanya masih menggunakan warna terang Impresionisme, tetapi meninggalkan unsur naturalisme. Lukisan Simbolis Gauguin mengandalkan bidang warna datar dan bentuk yang disederhanakan, dengan kontur hitam seperti pada kaca patri Abad Pertengahan. Warna-warnanya juga bukan warna alami.

Seperti pada karyanya yang berjudul Vision After the Sermon (1888).

Vision After the Sermon



Henri de Toulouse-Lautrec mendapat pengaruh dari lukisan Degas. Ia memiliki kepekaan menggambarkan orang-orang yang tinggal di lingkungan buruk tempatnya hidup. Seperti pada lukisannya At the Moulin Rouge (1892).

At the Moulin Rouge


Pengaruh Degas jelas tergambar dalam lukisan ini, tampak pada penggambaran objek secara realistik dan efek cropping yang arbitrer. Garis-garis yang melengkung menunjukkan pengaruh Gauguin, demikian juga warna yang ekspresif, misalnya warna hijau pada wajah wanita di bagian kanan lukisan.


Edvard Munch mendapatkan pengaruh dari Van Gogh, Gauguin, dan Toulouse-Lautrec. Ia mensintesiskan pengaruh dari ketiga seniman tersebut menjadi gaya lukisan yang sangat personal yang menjadi sumber munculnya Ekspresionisme.

The Scream (1893) adalah salah satu karyanya dari hasil sintesis penggabungan gaya dari pengaruh ketiga seniman Van Gogh, Gauguin, dan Toulouse-Lautrec.

The Scream



Henri Rosseau merupakan seniman yang melukis atas kepolosannya. Bakatnya ditemukan oleh Picasso. Dan lukisannya menggambarkan gaya Dekoratif. Salah satu contoh lukisannya adalah The Snake Charmer (1907)

The Snake Charmer


Sekian dulu post-nya.. Semoga bisa bermanfaat. Dan kalo ada salah atau kurang, mohon pembenaran dan tambahannya.. Makasih.. :)



Impresionisme


(Klik pada gambar untuk memperbesar)

Water Lilies


Gerakan Impresionis bergerak dari gerakan Realisme, yang meneruskan tradisi melukis berdasarkan pengamatan objek dalam kenyataan sehari-hari. Namun, tidak seperti seni lukis Realisme, seni lukis Impresionisme menggunakan warna yang terang. Pelukis Impresionis merekam kesan pengamatannya melalui goresan kuas yang tampak spontan dan kasar (sketchy), sehingga sering kali objek tampak kabur, tidak terfokus.

Istilah “Impresionisme” muncul ketika kelompok pelukis tersebut menyelenggarakan pamerannya yang pertama pada tahun 1874. Istilah tersebut sebenarnya merupakan komentar bernada sinis oleh para kritikus pada waktu itu, karena karya mereka tampak seperti sketsa atau terkesan belum jadi.

Kelompok Impresionis merupakan kelompok pelukis yang pertama kali konsisten dalam melukis di luar ruang. Metode melukis ini disebut dengan istilah plein air (open air). Dalam bentuknya yang murni, Impresionisme bermaksud menangkap kesan waktu yang singkat, merekam sensasi visual seperti apa yang tertangkap oleh mata. Impresionisme secara umum dapat dianggap sebagai gaya seni lukis pemandangan alam, namun beberapa pelukis Impresionis menyukai objek manusia.

Beberapa seniman Impresionis adalah..

Claude Monet tokoh utama gerakan Impresionisme. Ia adalah pelukis Impresionis murni, yang mendasarkan karyanya pada sensasi visual sesaat. Monet pada dasarnya adalah pelukis pemandangan alam.
Lukisannya yang berjudul Impression-Sunrise (1874) mungkin menjadi asal-usul nama Impresionisme.

Impression Sunrise


Monet berusaha menggambarkan cahaya itu sendiri, bukan hanya kesan cahaya. Sehingga ia selalu bereksperimen dalam menggunakan warna. Sampai akhirnya ia menemukan tehnik yang dinamakan broken-color dalam ia menggambarkan cahaya.


Pierre-Auguste Renoir lebih tertarik pada objek figur manusia, terutama wanita telanjang dari pada pemadangan alam. Keterlibatan Renoir dalam gerakan Impresionisme tidak selama seperti Monet. Pada tahun 1880-an ia meninggalkan Impresionisme, memilih kembali menggambarkan figur secara lebih solid. Warna dan goresannya mirip dengan Monet. Hanya saja ia lebih suka menggambarkan objek orang biasa, pada umumnya orang-orang dari kelas menengah yang sedang bersenang-senang menikmati aktivitas di waktu luang seperti pada lukisannya Luncheon on the Boating Party (1881).

Luncheon on the Boating Party



Edgar Degas sangat berbeda dengan pelukis-pelukis Impresionis lainnya. Ia cenderung menggunakan warna-warna yang agak gelap seperti warna-warna yang digunakan Manet, tidak seperti pelukis lainnya yang menggunakan warna-warna cerah atau cemerlang.

Degas masih setia terhadap tradisi seni lukis klasik dan menunjukkan kemahiran dalam tehnik menggambar sebagai unsur utama karyanya. Ia bahkan juga memberikan kontur pada figur-figurnya.

Namun seperti pelukis Impresionis lainnya, Degas mendasarkan tema karyanya pada pengamatan terhadap peristiwa kehidupan sehari-hari. Lukisan Degas menunjukkan pengaruh seni cetak jepang, yaitu pada sudut pandang yang sedikit ditarik ke atas. Ia menggunakan komposisi snapshot seperti pada fotografi. Lukisannya misalnya The Absynthe Drinker (1876).

Absinthe Drinker


Selain melukis, ia juga sangat mahir dalam lukisan pastel dan juga membuat patung. Objek kesukaannya adalah penari balet.


Berthe Morisot adalah salah satu pelukis wanita yang tergabung dalam gerakan Impresionisme. Ia terlibat sejak awal berdirinya gerakan tersebut. Karyanya terpengaruh dari lukisan Manet. Salah satu contoh karyanya adalah The Artist’s Daughter with a Parakeet (1890).

The Artist's Daughter with a Parakeet



Mary Cassat adalah pelukis wanita yang bersahabat dekat dengan Degas. Bahkan digosipkan mereka memiliki hubungan yang sangat dekat dan lebih dari sekedar teman.

Ia terpengaruh lukisan-lukisan Degas dan mendalami seni cetak Jepang. Dengan pengambilan sudut pandang gambar yang agak dinaikkan. Penggambaran objek yang disederhanakan dan Warna yang digunakan cenderung datar.

Lukisan-lukisannya lebih banyak bercerita tentang kasih sayang seorang ibu dan figur-figur wanita. Contoh lukisannya adalah The Coiffure (1891).

The Coiffure



James Abbod McNeil Whistler lebih suka menggunakan warna keabu-abuan atau kecoklat-coklatan dengan sentuhan warna emas atau merah pada lukisannya. Ia menarik analogi antara kualitas abstrak seni lukis dengan musik, sehingga ia memberi judul karyanya dengan kata-kata “nokturno, simponi, dan aransemen”. Salah satu diantaranya adalah Arrangment in Black and Grey, No. 1 (The Artist’s Mother) (1872).

Selain melukiskan sesuatu objek, bagi Whistler lukisan adalah aransemen bidang, warna, dan gelap-terang dalam suatu komposisi.

Arragment in Black and Grey No. 1 (The Artist's Mother)


Sekian dulu post kali ini, smeoga bermanfaat. Kalo ada kurang atau salah mohon tambahan dan pembenarannya.. Makasih.. :)




Rabu, 09 November 2011

Art Work - Ilustrasi Audisi Tukang Parkir Jogja


(Klik pada gambar untuk memperbesar)

Audisi Tukang Parkir Jogja
Ink On A3 Paper
2009


Mengkritik dari kehidupan di Yogyakarta, Tukang Parkir di sini (Jogja) adalah pekerjaan yang sangat menjanjikan. Karena bahkan took kecil-pun kadang memiliki tukang parkir. Biarpun karang tukang parkir tersebut hanya duduk diam dan ketika ada yang ingin memakai kendaraannya barulah ia mendekati untuk meminta uang parkir (kadang ada yang tidak melakukan apapun, tapi kadang juga ada tukang parkir yang memang membantu mengeluarkan kendaraan, dalam hal ini motor).

Di sini sepertinya pekerjaan menjadi tuakng parkir adalah sesuatu yang sangat menjanjikan. Karena bayangkan, parkir sekarang adalah sebenarnya 500 rupiah. Tapi kalo dikasih 1000 rupiah ada yang di balikin, ada juga yang dengan cueknya memasukkan semuanya ke kantong. Parahnya, kadang juga kalo kita ngasih 2000-an nggak dibalikin.

Disini aku mengkritik dengan banyaknya orang yang berminat menjadi tukang parkir. Sehingga dibukanya audisi untuk menjadi tukang parkir. Dan dari berbagai kalangan mendaftar ke sana. Ada cewek sexy dan cantik, binaragawan, lulusan S1 dan preman mendaftar menjadi tukang parkir karena saking menjanjikannya pekerjaan ini..

Hehe.. Curhat banget..
Ini karena aku kadang dapet tukang parkir yang kalo dikasih 1000-an nggak dikembaliin..
Media yang digunakan adalah Tinta China dan Tusuk Sate pada Kertas A3..

Sekian dulu post kali ini. Kalo ada masukan silahkan.. :)



Art Work - Grafis Cetak Sambung

(Klik pada gambar untuk memperbesar)

Membunuh Karakter 2/5
Hadrboard Cut On Paper
Cetak Sambung, Cetak Tinggi
2010

Membunuh Karakter 5/5

Membunuh Karakter 1/5

Membunuh Karakter 3/5

Membunuh Karakter 4/5


Membunuh Karakter bercerita tentang sesuatu yang baru menghilangkan sesuatu yang lama. Dalam kasus disini adalah karakter baru yang kutemukan atau kuciptakan menggeser posisi karakter yang sudah terlebih dahulu kutemukan.

Karakter tersebut dengan kuat mempengaruhiku untuk terus-terusan membuat dirinya sehingga aku benar-benar melupakan karakter lamaku. Karakter yang telah terlebih dahulu menemaniku dan bersamaku..

Sekian dulu post kali ini, kalo ada masukan silahkan.. :)



Art Work - Grafis Dry Print, Cetak Dalam

(Klik pada gambar untuk memperbesar)

Habis Tebuang 5/5
Dry Print On Paper
Cetak Dalam
2010

Habis Tebuang 4/5

Habis Tebuang 2/5

Habis Tebuang 1/5

Habis Tebuang 5/5


Habis Terbuang bercerita tentang sesuatu yang sudah habis masa pakainya, dan dicampakkan tanpa melihat apa yang sudah dilakukan bersama sesuatu tersebut. Sesuatu yang mungkin pernah menemani kesendirian kita atau sesuatu yang dulu sempat melengkapi kekurangan kita..
Ini sudah umum terjadi di sekitar kita. Kejadian seperti ini..

Namun, apabila memang sudah waktunya sesuatu itu harus dibuang atau dihilangkan bagaimana?? Hanya kita sendirilah yang memiliki jawaban dalam diri kita masing-masing..
Karena persepsi tentang kenangan bagi tiap individu itu berbeda antara yang satu dengan lainnya..

Kenangan tetaplah kenangan. Sepahit atau semanis apapun itu, untukku akan tetap terkenang dalam hatiku. Entah sekuat apapun aku melupakannya, mereka akan selalu ada dalam hati dan ingatanku..

Sekian dulu post kali ini. Kalo ada yang ingin ngasih masukan silahkan... :)